sebelumnya, silaken berkunjung dulu ke ***link removed*** dan liat-liat.
sudah?

nah kurang antusiasnya user untuk menggunakan ipv6 (selain karena alasan “belum butuh”) adalah karena kurang adanya provider dengan konten menarik yang mewajibkan user untuk menggunakan ipv6 dalam mengaksesnya.

contohnya search engine (tak usah saya jelaskan lagi seberapa besar kebutuhan user untuk menggunakan jasa search engine). jika (seandainya) Google hanya menempatkan search engine nya dengan platform ipv6 (tidak dengan dual stack) maka mau tidak mau user akan berusaha mendapatkan/memasang ipv6 di laptop mereka untuk bisa mengakses google (selain alternatif berganti search engine ke yahoo! atau altavista tentunya).

nah link yang saya suguhkan diatas memiliki ide yang cukup menantang, yaitu menyuguhkan konten-konten “panas” dan GRATIS dengan menggunakan ipv6. ok, kita tak perlu berbicara moral dan etika terlebih dahulu, sebab gak bisa dielakkan lagi user sangat “mencari” konten jenis ini dan sayangnya saat-saat sekarang sukar sekali dijumpai yang gratis. nah dengan disediakannya konten adult gratisan dan menggunakan ipv6, sangat dimungkinkan user akan berusaha mendapatkan dan menggunakan ipv6 ini di workstation mereka, karena memang cukup mudah mendapatkannya. cukup lapor ke provider internet tempat berlangganan, saya yakin mereka punya solusi yang bagus untuk Anda.

tapi untuk menghadirkan konten panas di indonesia? saya kira dengan alasan apapun akan menemui jalan buntu. jadi ya mestinya dipikirkan untuk memberi konten lain yang tak kalah menarik tentunya. atau dengan menggratiskan beberapa layanan internet berbayar hanya jika diakses dengan ipv6 misalnya. (ok, maksud saya disini adalah seperti detikportal).

berminat ?


nb: trims buat mas KW yang sempet nyindir buat kembali menulis

Advertisements

Google di IPv6

March 13, 2008

Google IPv6

Setelah menunggu lama (siapa yang nungguin?) Akhirnya Google jalan juga di IPv6.

Hehehe, Happy Googling..!

IPv6 Kita; Mati Suri (Lagi)

November 24, 2007

Sekarang tahun 2007, akhir.
Sampai mana pertumbuhan ipv6 Indonesia ?
Agaknya setelah IPv6 menginjakkan kaki nya di tanah air, hingga saat ini (riset pertama tercatat pada tahun 2004 oleh CBN dan XL – CMIIW) pertumbuhan ipv6 di Indonesia sering terganjal beberapa masalah.. Masalah yang paling fundamental menurut versi saya pribadi adalah faktor SDM nya. Untuk masalah perangkat kita tak perlu lagi mempermasalahkannya. Dengan SDM yang benar-benar consern dengan ipv6, berbagai perangkat bisa dimanfaatkan..
Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan kepada rekan2 saya yg aktifis di ISP Indonesia mengenai penerapan ipv6 di instansi mereka.
Jawaban yang saya dapat pun tidak jauh beda, rata-rata masih berkutat pada tidak adanya SDM yang konsern hingga alasan yang paling klasik, “belom butuh tuh..!”
Jika kita bicara masalah butuh dan belum butuh, memang masih sangat mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan network dengan IPv4 di Indonesia pada saat ini. Namun kalau kita terus berkata ‘belum butuh’ dan seiring itu IPv4 terus digunakan, dan tanpa sadar menjadi bom waktu buat kita. Suatu saat, ketika IPv4 benar2 menipis, barulah terasa.. dan ironisnya, kita belum siap..!!

Secara pribadi saya lebih suka mengatakan implementasi IPv6 di lepaskan dari permasalahan butuh atau tidak butuhnya. Namun teknologi yang ditawarkan ipv6 dan perbandingannya dengan ipv4.

Analoginya pada saat kita diberikan sebuah sepeda oleh orang tua.. Dalam usia anak2, betapa senangnya kita.. tapi suatu ketika orang tua kita menawarkan sebuah sepeda motor.. Apakah kita akan menolaknya dan tetap menggunakan sepeda..? Saya sangat yakin kita akan meninggalkan sepeda dan segera beralih ke sepeda motor yang menawarkan berbagai kemudahan. Apakah alasannya hanya karena sepeda sudah tidak bisa dipakai?? tentu bukan, jika Anda berfikir masalah ‘upgrade’ dan peningkatan performa, ok.. kita dalam jalur yang sama sekarang.

Sempat juga terpikir oleh otak nakal saya, bahwa bangsa Inodonesia mirip dengan bangsa yang ‘latah’, mudah kaget. Memang suatu saat perlu sedikit ‘paksaan’ untuk melakukan sesuatu atau berpindah ke sesuatu yang baru. Saya ambil contoh migrasi opensource. Beberapa saat yang lalu, kita terlena dengan sistem operasi binary yang begitu memanjakan. Walaupun OpenSource telah hadir dan menunjukkan keistimewaannya, tampak sekali kemalasan telah membawa kita mementahkan opensource dan tetap asyik dengan Office kita. Hingga suatu saat ramai lah terdengar kabar tentang HAKI dan sweeping software bajakan yg mulai se-ramai operasi WTS dan Waria.

Bagaimana ya untuk melakukannya juga di IPv6, bagaimana kalau dilakukan sedikit ‘gertakan’ dan ‘ancaman’ untuk men-trigger user2 malas untuk segera berpindah (ke IPv6 tentunya). Dengan memanfaatkan sifat ‘latah’nya Indonesia, mungkin cara ini bisa mulai difikirkan. he he he.

Saat detik.com menelorkan www6 nya, sempat beberapa lama kalangan aktivis ‘kaget’ dan ramai lah lagi ipv6 di tanah air. Wong namanya orang kaget, pasti gak lama, dan segera adem lagi. Yah, liat aja sekarang.
Sekali lagi, ini cuman tulisan nakal admin ingusan yang kurang kerjaan. Kalo gak setuju, ya silakan di caci.

.dk_

Satu pertanyaan, ‘mengapa detik.com menggunakan name www6.detik.com untuk situs dengan dukungan IPv6 nya, dan tidak menyatukannya dengan http://www.detik.com ?’

Pasti terlihat lebih ‘bergengsi’ bila situs http://www.detik.com bisa diakses dengan IPv4 plus IPv6 dalam satu nama saja (www.detik.com saja).

Yang harus diluruskan disini adalah, hal tersebut terjadi dengan kesengajaan dan bukan karena pihak IT detik.com belum bisa menyatukannya.
Alasannya.. ??

Silakan pelajari fitur dari 2 browser paling populer di kalangan surfer2 jagat maya saat ini, Internet Explore dan Mozilla Firefox.
Di versi terbaru mereka, (IE7 dan Firefox2) resolver default nya adalah menggunakan IPv6. Jadi secara default setiap situs yang ‘ditengok’ melalui dua jendela ini, akan menanyakan terlebih dahulu di server tujuan.. Apakah situs ini support dengan IPv6 ? Jika tidak, maka koneksi akan dilangsungkan dengan protokol IPv4. Jika iya, maka browser akan berganti meneliti apakah host yang digunakan saat ini sudah mendukung IPv6 juga? Kalau kedua pihak telah support dengan IPv6, maka koneksi akan dilangsungkan. Namun apa yang terjadi jika didapati server situs tujuan telah mendukung IPv6 sedangkan host asal belum ? Maka browser akan sedikit membutuhkan waktu untuk mengganti resolver-nya dengan IPv4 serta membangun hubungan dengan IPv4.
Lalu mengapa pihak detik.com meluncurkan versi www6.detik.com-nya? Jelas alasannya mengacu pada reliabilitas koneksi yang dijanjikan kepada pengguna IPv6. Dengan IPv4 yang telah ada, detik.com yang telah terhubung langsung dengan OpenIXP tidak akan memerlukan lompatan hop yang panjang untuk dijangkau dari dalam negeri. Hal tersebut masih bisa dioptimalkan dengan lebih baik dengan IPv6. Dengan jumlah lompatan (router) yang lebih sedikit, jelas kehandalan koneksi lebih bisa dijamin.

Jadi, pilih www atau www6 … ?
Silakan tanya host Anda..!

Dk_

Sambil nunggu buka puasa iseng2 buka situs depkominfo (sekali-sekali jadi nasionalis dikit, heheheh). Eh lagi ada topik yang hangat, dan kayaknya bakal bikin panas lagi nih.

Pemerintah mencanangkan hajatan yang dikasi nama ROADMAP KONVERGENSI INFRASTRUKTUR TIK, yang rentang project nya dari tahun ini (2007) sampai 2011.

Goalnya adalah mencapai layanan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang benar-benar konvergen (berada pada satu platform saja). hajatan ini sebenarnya masih satu rangkaian dengan Apricot (kondangan orang2 APNIC) 2007 kemaren.

Sudah berjalan-kah .. ? sejauh ini (menurut program kerja postel) tahun 2007 ini masih diawali dengan penataan undang-undang dan regulasi. Sedangkan hal2 yang bersifat lebih ‘tehnis’ rata-rata baru dimulai tahun 2008.
Sejauh ini yang saya tangkap konvergensi ini membutuhkan penataan-penataan kembali internet resource di Indonesia, seperti IP, DNS dan IIX. Serta dan tidak lupa migrasi IPv4 – IPv6 yang juga akan dilaksanakan pada tahun 2008. Hal ini berkenaan dengan rencana konvergensi pemerintah yang nantinya akan menggabungkan segala resource publik diatas satu platform, tentu saja termasuk di dalamnya aplikasi2 yang tergolong ‘rakus’ bandwidth seperti streaming dan IP TV, jadi tentu saja kebutuhan akan IPv6 tidak bisa di tunda lagi.

Banyak kalangan masih meragukan migrasi ini, memang benar untuk saat ini IPv4 masih bisa menutupi keperluan networking di Indonesia, namun jangan lantas hal ini membuat kita menjadi terlena dan mengesampingkan pertumbuhan resource ke depan. Bahkan untuk menunjukkan keseriusan akan hal ini, postel membentuk taskforce yang concern di ipv6 ini, tapi jalan nggak yaah..??

Untuk menyikapinya, kita selaku pelaku layer bawah mesti berbenah dan bersiap untuk menyambut Roadmap Postel ini. Jangan buru-buru underestimate dulu dengan pemerintah. Iklan bilang, coba dulu.. baru komentar..!

Source nya bisa diambil di http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=819

Dika_

Setelah memiliki mesin Unix yang mendukung ipv6, sekarang bagaimana menjadikannya sebuah gateway?

 

BSD hadir dengan sebuah daemon yang bernama rtadv (router advertisement). Daemon yang akan megirimkan paket data yang berisi informasi prefix ipv6 kepada suatu interface. Rtadv akan melihat routing table dan memeriksa setiap perangkat yang terhubung langsung ke interface yang telah ditentukan. Jika perangkat tersebut tidak memiliki ipv6 static, maka daemon ini akan mengirimkan informasi prefix nya dan akan menunggu response dari klien. Jika klien di set dengan opsi ‘autoconfiguration’ maka dia akan menggunakan satu alamat yang valid dari prefix yang ditawarkan router.

 

Pada artikel sebelumnya telah kita tambahkan opsi untuk mengaktifkan daemon rtadv ini pada file /etc/rc.conf.

 

————————————/etc/rc.conf—————————————-

……

rtadvd_enable=”YES”

rtadvd_interfaces=”vr0″

……

————————————-END————————————————

 

Hal ini berarti rtadvd akan meng-advertise prefixnya ke semua perangkat yang terhubung langsung dengan interface vr0, entah itu mesin Windows ataupun Unix.

 

Ok, sekarang yang harus dilakukan adalah sedikit modifikasi di mesin klien.

 

– Windows:

 

1. Masuk ke Command Promt dan ketikkan “ipv6 install”

2 Ketikkan “ipv6 renew”

3. Periksa dengan ipconfig, apakah sudah memperoleh address ipv6 dari router.

4. Lakukan tes koneksi dengan ping6, tracert6

 

Screen Shoot Windows

 

– Linux

 

Masuk ke /etc/sysconfig/network dan tambahkan baris berikut:

 

————————————/etc/sysconfig/network——————————

……

NETWORKING_IPV6=yes

IPV6AUTOCONF=yes

……

————————————-END————————————————

 

Di /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 tambahkan:

 

————————/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0———————–

……

IPV6INIT=yes

……

————————————-END————————————————

 

Sesudah itu restart service network Anda dan periksa dengan ifconfig eth0, apakah sudah mendapatkan address dari router..

 

Jika masih terjadi kesalahan, periksa kembali pekerjaan Anda dari awal.

Semoga membantu.

 

 

Langsung saja,
Goal projectnya adalah membuat sebuah mesin freeBSD/OpenBSD implemented ipv6.
Asumsi dasar:
– alocated ipv6 2402:aabb:1234::/64
– ptp dengan router 2402:aabb:ab00::2/126
– gateway/router 2402:aabb:ab00::1/126
– nameserver 2402:aabb::131

Kita akan membahas mengenai alokasi ipv6 yang benar2 alocated dari provider maupun alokasi APNIC, untuk setting dengan tunnel broker InsyaAllah saya sampaikan di waktu lain.

– FreeBSD

Pertama periksa config interface nya,
————————————BEGIN———————————————–
# ifconfig
lo0: flags=8049<UP,LOOPBACK,RUNNING,MULTICAST> mtu 33224
groups: lo
inet6 ::1 prefixlen 128
inet6 fe80::1%lo0 prefixlen 64 scopeid 0x6
inet 127.0.0.1 netmask 0xff000000
rl0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:51
groups: egress
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6251%rl0 prefixlen 64 scopeid 0x1
inet 202.190.24.2 netmask 0xfffffffc broadcast 202.190.24.3
vr0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:52
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6252%vr0 prefixlen 64 scopeid 0x2
inet 10.10.10.1 netmask 0xffffff00 broadcast 10.10.10.255
————————————-END————————————————

OK, urutan commandnya adalah sbb:
1. Edit file /etc/rc.conf
tambahkan opsi2 berikut:

————————————/etc/rc.conf—————————————-
ipv6_enable=”YES”
ipv6_nerwork_interfaces=”auto”
ipv6_defaultrouter=”2402:aabb:ab00::1″
ipv6_router_enable=”YES”
ipv6_router=”/usr/sbin/route6d”
ipv6_gateway_enable=”YES”
rtadvd_enable=”YES”
rtadvd_interfaces=”rl0″
ipv6_ifconfig_rl0=”2402:aabb:ab00::2 prefixlen 126″
ipv6_ifconfig_vr0=”2402:aabb:1234::1 prefixlen 64″
————————————-END————————————————

Edit file /etc/resolv.conf

————————————/etc/resolv.conf————————————
nameserver 202.190.24.131
nameserver 2402:aabb::131
————————————-END————————————————

Simpan setting network Anda dan lihat perbedaannya.

————————————command———————————————
# sh /etc/netstart
# ifconfig
lo0: flags=8049<UP,LOOPBACK,RUNNING,MULTICAST> mtu 33224
groups: lo
inet6 ::1 prefixlen 128
inet6 fe80::1%lo0 prefixlen 64 scopeid 0x6
inet 127.0.0.1 netmask 0xff000000
rl0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:51
groups: egress
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6251%rl0 prefixlen 64 scopeid 0x1
inet6 2402:aabb:ab00::2 prefixlen 126
inet 202.190.24.2 netmask 0xfffffffc broadcast 202.190.24.3
vr0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:52
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6252%vr0 prefixlen 64 scopeid 0x2
inet6 2402:aabb:1234::1 prefixlen 64
inet 10.10.10.1 netmask 0xffffff00 broadcast 10.10.10.255
# ping6 http://www.kame.net
PING6(56=40+8+8 bytes) 2402:aabb:ab00::2 –> 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=0 hlim=48 time=463.088 ms
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=1 hlim=48 time=461.918 ms
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=2 hlim=48 time=690.285 ms
^C
http://www.kame.net ping6 statistics —
3 packets transmitted, 3 packets received, 0.0% packet loss
round-trip min/avg/max/std-dev = 461.918/538.430/690.285/107.379 ms
# _
————————————-END————————————————

– OpenBSD

Dengan asumsi alokasi ipv6 sama dengan contoh sebelumnya, sekarang kita beralih pada OpenBSD.
Ada 3 file konfigurasi utama yang harus diperhatikan di OpenBSD, yaitu:
1. /etc/hostname.<interface> # untuk menambahkan ipv6 address pada interface
2. /etc/mygate # untuk menambahkan default route/gateway
3. /etc/resolv.conf # untuk menambahkan nameserver

Langsung ke file pertama, karena kita memiliki 2 interface, maka ada 2 file yang harus diset, yaitu /etc/hostname.rl0 dan /etc/hostname.vr0.

————————————/etc/hostname.rl0———————————–
inet 202.190.24.2 255.255.255.252 NONE
inet6 alias 2402:aabb:ab00::2 126
————————————-END————————————————

————————————/etc/hostname.vr0———————————–
inet 10.10.10.1 255.255.255.0 NONE
inet6 alias 2402:aabb:1234::1 64
————————————-END————————————————

File kedua adalah /etc/mygate yaitu untuk menambahkan sebuah default router untuk mesin kita.

————————————/etc/mygate—————————————–
202.190.24.1
2402:aabb:ab00::1
————————————-END————————————————

OK, langsung menambahkan nameserver..

————————————/etc/resolv.conf————————————
nameserver 202.190.24.131
nameserver 2402:aabb::131
————————————-END————————————————

Prosedur pengecekan sama dengan FreeBSD..

————————————command———————————————
# sh /etc/netstart
# ifconfig
lo0: flags=8049<UP,LOOPBACK,RUNNING,MULTICAST> mtu 33224
groups: lo
inet6 ::1 prefixlen 128
inet6 fe80::1%lo0 prefixlen 64 scopeid 0x6
inet 127.0.0.1 netmask 0xff000000
rl0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:51
groups: egress
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6251%rl0 prefixlen 64 scopeid 0x1
inet6 2402:aabb:ab00::2 prefixlen 126
inet 202.190.24.2 netmask 0xfffffffc broadcast 202.190.24.3
vr0: flags=8843<UP,BROADCAST,RUNNING,SIMPLEX,MULTICAST> mtu 1500
lladdr 00:09:3d:00:62:52
media: Ethernet autoselect (1000baseT full-duplex)
status: active
inet6 fe80::209:3dff:fe00:6252%vr0 prefixlen 64 scopeid 0x2
inet6 2402:aabb:1234::1 prefixlen 64
inet 10.10.10.1 netmask 0xffffff00 broadcast 10.10.10.255
# ping6 http://www.kame.net
PING6(56=40+8+8 bytes) 2402:aabb:ab00::2 –> 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=0 hlim=48 time=463.088 ms
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=1 hlim=48 time=461.918 ms
16 bytes from 2001:200:0:8002:203:47ff:fea5:3085, icmp_seq=2 hlim=48 time=690.285 ms
^C
http://www.kame.net ping6 statistics —
3 packets transmitted, 3 packets received, 0.0% packet loss
round-trip min/avg/max/std-dev = 461.918/538.430/690.285/107.379 ms
# _
————————————-END————————————————

Sip, sekarang Anda telah memiliki sebuah mesin Unix yang enable ipv6. Tinggal sedikit konfigurasi untuk menjadikannya sebuah masin gateway.

Trims,
Dika_